Hati-hati Menggunakan Layanan VPN

Hati-hati Menggunakan Layanan VPN

Penutupan sosial media oleh pemerintahan di Jakarta beberapa lalu dapat diakali program VPN namun harus hati-hati saat menggunakan.

VPN ialah langkah cepat untuk kembali memperoleh akses ke bermacam situs internet yang dikunci.

Apa lagi waktu sosial media khusus seperti Instagram, WhatsApp, Facebook, sampai Twitter dikunci pemerintahan seperti waktu kekacauan 21-22 Mei tahun kemarin.

Hati-hati Menggunakan Layanan VPN, 2 TB dari 20 Juta User Bocor

Walau VPN dapat dipakai untuk menyiasati blokir, tetapi rupanya aplikas antiblokir ini punyai imbas jelek yang dapat diakibatkan.

Sayang, ada banyak juga yang belum sadar bahaya gunakan VPN ini dapat benar-benar bikin rugi dan semestinya jangan diremehkan. Dalam menggunakan layanan VPN haruslah hati-hati dan tidak boleh asal memilih.

Baca Juga: Harga yang Worth it Untuk Pelajar, Chromebook

Di zaman digital ini, internet menjadi keperluan untuk beberapa orang, khususnya mereka yang bekerja dengan manfaatkan akses internet. Bahkan juga sekarang ini, nyaris 1/2 dari keseluruhan komunitas di dunia semakin aktif memakai internet sebab harus kurangi rutinitas di luar ruang karena pandemi Covid-19.

Pemakaian Virtual Privat Networks (VPN) juga bertambah sebab bermacam argumen, seperti sembunyikan posisi pemakai sampai membuat peretas lebih susah untuk menyelusup ke koneksi internet. Tetapi bukannya membuat aman, VPN menjadi permasalahan untuk pemakainya.

Umumnya, VPN beresiko ialah VPN yang tidak berbayar atau cuma-cuma. Supaya kamu tidak jadi korban dari VPN abal-abal yang dapat mengambil beberapa data utama di piranti, di bawah ini sudah TepatIptek kumpulkan VPN Android gratis yang beresiko.

Bukan rahasia kembali jika VPN benar-benar direferensikan – tidak ada kebimbangan karena itu. Ada banyak sekali argumen kenapa selalu harus memakai VPN saat sedang online, sebagaimana untuk jaga privacy data dari ‘tangan-tangan usil’ di internet. Walau VPN adalah poin utama, tidak seluruhnya VPN pantas untuk dipakai.

Bahaya Dari Penggunakan VPN

Kenyataannya, ada beberapa VPN yang buruk sekali yang karena sangat jeleknya, tidak direferensikan untuk dipakai.

Salah satunya argumen paling besarnya ialah beberapa VPN itu kedapatan mengumpulkan data pemakai, walau dijumpai jika mereka janjikan VPN yang “no-log”.

Maknanya mereka tidak merekam apa saja rutinitas pemakainya. Ditengarai jika janji itu cuman untuk keperluan pemasaran. Sehingga harus hati-hati saat akan menggunakan layanan VPN.

Dikutip Financial Kilat, sekitar 7 penyuplai VPN berbasiskan di Hong Kong (diantaranya: UFO VPN, FAST VPN, Free VPN, Super VPN, Flash VPN, Safe VPN, dan Rabbit VPN), yang mempunyai lebih kurang 20 juta pemakai di penjuru dunia disampaikan sudah mengungkapkan data pemakai mereka secara online. Berdasar info dari bermacam media, lewat team periset yang dipegang oleh Noam Rotem dari vpnMentor, jumlah data dari 20 juta pemakai yang bocor bahkan juga capai 1,2 TB data.

Beberapa data yang bocor dari service VPN itu meliputi info individu, misalnya: alamat rumah, detil pembayaran untuk Bitcoin dan PayPal, alamat e-mail dan password, nama pemakai, dan ada banyak kembali. Perusahaan dari bermacam service VPN itu diantaranya Dreamfii HK, Mobipotato HK, Starxmobi HK dan Nownetmobi. Program VPN seperti itu masih ada di Play Store hingga saat ini, dan cuman Rabbit VPN yang sudah tidak diaktifkan dari peredaran.

Kecuali 7 VPN yang mengungkapkan data pemakai sekitar 1.2 TB dari 20 juta pemakainya, ada banyak VPN yang dijumpai beresiko dan beresiko untuk rutinitas online kamu. Ingin tahu? Berikut daftarnya!

  1. Hola

Kembali di tahun 2015, Hola kedapatan lakukan suatu hal yang tidak semestinya dilaksanakan oleh service VPN. Suatu hal itu ialah mengganti PC pemakai jadi “exit node”, yang memungkinkannya pemakai Hola lain untuk merutekan jalan raya internet mereka lewat node itu.

Hola dijumpai jual bandwidth itu ke service faksi ke-3 . Sebab pelanggaran “menakutkan” ini, banyak pemakai yang tempatkan Hola ke kelompok service VPN yang harus dijauhi. Untuk pilihan lain, pemakai dapat memakai NordVPN.

  1. Hotspot Shield

Dilasnir dari ZDNet, di tahun 2017, group privacy ajukan claim pada Hotspot Shield sebab sudah “mengadang dan arahkan jalan raya internet ke situs mitra terhitung perusahaan advertensi”. Claim ini menyebutkan bila Hotspot Shield menulis detil jaringan, yang mana itu berlawanan dengan peraturan privacy dari sebuah service VPN. Awalnya, di tahun 2016, sebuah makalah riset mendapati jika Hotspot Shield “menyuntikkan code JavaScript” dan arahkan jalan raya e-commerce ke domain mitra.

  1. HideMyAss

Di tahun 2011, Federasi Bureau of Investigation atau FBI mencari rutinitas seorang hacker dan mendapati bila IP yang dipakai oleh hacker itu adalah punya service VPN HideMyAss. FBI selanjutnya mendapatkan log rutinitas dari HideMyAss dan memakainya untuk tangkap hacker itu.

Lepas dari perlakuan ilegal yang dilaksanakan oleh hacker itu, kejadian ini menegaskan satu terburukan HideMyAss yakni mereka simpan log yang bisa dicari. Ini kemungkinan tidak seburuk lainnya di daftar ini, tetapi sebaiknya untuk memakai pilihan VPN lain.

  1. Drama Free VPN

Pada tahun 2016, salah satunya browser terkenal yakni Drama, umumkan kedatangan “service VPN gratis dan unlimited” dengan feature komplet untuk semuanya pemakai. Service itu dinamakan Drama Free VPN, yang walau mempunyai nama yang cukup menarik, kenyataannya itu bukan VPN dalam pengertian yang sesungguhnya.

Bukannya VPN, Drama Free VPN lebih menuju situs proxy, yang mengumpulkan data pemakaian atau rutinitas dari pemakai. Drama kemungkinan simpan data itu buat mereka sendiri, namun ada peluang jika mereka membaginya ke perusahaan faksi ke-3 .

  1. PureVPN

Tidak berbeda jauh dengan kasus HideMyAss, di tahun 2017, FBI mencari dan tangkap seorang stalker. Sesudah mendapatkan info mengenai rutinitasnya dari PureVPN. Walau pada peraturan privasinya PureVPN menyebutkan jika mereka tidak mengumpulkan log rutinitas dari pemakai. Melalui kasus ini dijumpai bila PureVPN simpan lumayan banyak info untuk dapat mencari salah satunya pemakainya. Kasus ini, satu kali lagi menunjukkan jika beberapa VPN tidak betul-betul mengikut ketentuan atau peraturan privacy yang mereka bikin sendiri.

  1. VPNSecure

Bukan hanya sebab VPNSecure bertempat di Australia (salah satunya negara “Lima Mata” atau negara dengan jaringan mata-mata. Makalah riset di tahun 2016 mendapati kebocoran IP dan DNS dari service VPN itu. Bukan hanya hanya itu, dijumpai juga bila PureVPN memakai “engress poin” pada piranti pemakainya. Ide sama seperti “exit node” yang menjatuhkan Hola. Makalah itu curigai tetapi tidak memverifikasi jika bandwidth pemakai bisa dipakai tanpa setahu mereka.

  1. ZenMate

Di tahun 2018, sebuah test yang dilaksanakan oleh vpnMentor mendapati jika ZenMate (bersama-sama dengan Hotspot Shield dan PureVPN). Pernah alami kebocoran IP dari para penggunanya.

Selanjutnya, kebocoran ini bisa berpengaruh pada bocornya data pemakai sekalinya. Sudah memakai internet melalui jaringan VPN punya ZenMate (atau dua lainnya). Ini jadi lebih jelek kembali saat ZenMate dijumpai lamban dalam tangani penemuan ini. Sehingga membuat beberapa pemakai cemas dan ragu-ragu dengan niat mereka dalam jaga privacy pemakai.

Semua daftar VPN di atas adalah program VPN gratis yang dapat didownload di Google Play Store. Berdasar data dari McAfee studi, 61 % IT profesional minimal pernah memberikan laporan satu kasus dalam kariernya. Mengenai perampokan data perusahaan yang dilaksanakan oleh peretas atau aktivis digital terhitung yang mengikutsertakan VPN gratis.

Tahu lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sesungguhnya mulai menimbang ijin operasional untuk service Virtual Privat Network (VPN). Dirjen Program Informatika Kominfo Semuel Abrijani Pangerepan menerangkan faksinya tengah membahas ketentuan berkaitan ijin pengadaan service VPN.

Peraturan berkaitan ijin service VPN masih ditelaah, hingga Kominfo masih tidak dapat pastikan kapan ketentuan itu diterapkan.

Demikianlah info tentang beberapa layanan program VPN beresiko yang harus dijauhi. Beberapa layanan VPN di atas kemungkinan telah menangani permasalahannya di masa lampau. Tetapi untuk menghindar beberapa hal yang tidak diharapkan, sebaiknya untuk memakai pilihan service VPN lain. Jika perlu, pakai yang berbayar.